Jumat, 23 Maret 2012

All About DICIPLINE_tugas makalah manajemen kelas

Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang DISIPLIN, ada baiknya jika kita kenalan dulu, apa sih DISIPLIN itu?
Selamat membaca,... ^^

Arti Disiplin
Konsep popular dari “disiplin” adalah sama dengan “hukuman”. Menurut konsep ini, disiplin digunakan hanya bila anak melanggar peraturan dan perintah yang diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang ebrwewenang mengatur kehidupan bermasyarakat, tempat anak itu tinggal.
Disiplin berasal dari kata yang sama dengan “disciple”, yakni seorang yang belajar dari atau secara suka rela mengikuti seoran gpemimppin. Orang tua dan gru merupakan pemimpin dan anak merupakan murid yang belajar dari mereka cara hidup yang menuju ke hidup yang erguna dan bahagia. Jadi disiplin merupakan cara masyarakat mengajar anak perilaku moral yang disetujui kelompok.
Tujuan disiplin adalah membentuk perilaku sedemikian rupa hingga ia akan sesuai dengan peran-peran yang ditetapkan kelompok budaya, tempat individu itu diidentifikasikan. 
Beberapa Kebutuhan Masa Kanak-Kanak yang Dapat Diisi Oleh Disiplin
-          Disiplin memberi anak rasa aman dengan memberitahukan apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan.
-          Dengna membantu anak menghindari perasaan bersalah dan rasa malu akibat perilaku yang salah – perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang buruk – disiplin memungkinkah anak hidup menurut standar yang disetujui kelompok social dan dengan demikian memperoleh persetujuan masyarakat.
-          Dengan disiplin, anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian yang akan ditafsirkan anak sebagai tanda kasih saying dan penerimaan.
-          Disiplin yang sesuai dengan perkembangna berfungsi sebagai motivasi pendorong ego yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan darinya.
-          Disiplin membantu anak mengembangkan hati nurani dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku.

Mengapa disiplin diperlukan, ya???
ini dia,... :)

Pada masa lampau, disiplin dianggap perlu untuk menjamin bahwa anak akan menganut standar yang ditetapkan masyarakat dan yang harus dipatuhi anak agar ia tidak ditolak masyarakat.
Disiplin perlu untuk perkembangan anak, karena ia memenuhi beberapa kebutuhan tertentu. Contoh kebutuhannya? Mungkin contohnya disiplin dalam hal waktu jam tidur, missal, jam 9 malam anak harus sudah bersiap tidur. Lalu disiplin dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, tugas rumah, dll. J
Terdapat banyak kondisi yang mempengaruhi kebutuhan anak akan disiplin. Berikut enam diantaranya yang dianggap sangat penting:
1.       Karena terdapat variasi dalam laju perkembangan anak. Tidak semua anak dengan usia yang sama dapat mempunyai kebutuhan akan disiplin yang sama. Disiplin yang cocok untuk anak yang satu belum tentu cocok untuk anak yang lain dengan usia yang sama.
Misalnya, beberapa kata yang lemah lembut mungkin membuat satu orang anak mengerti bahwa ia tidak boleh bermain dengan korek api, sedangkan anak lain dengan usia yang sama mungkin tidak mengerti kata yang digunakan dalam larangan itu dan sentilan pada jarinya diperlukan untuk membuatnya mengerti larangan tersebut.
2.       Kebutuhan akan disiplin bervariasi menurut waktu dalam sehari. [?]
3.       Kegiatan yang dilakukan anak mempengaruhi kebutuhan akan disiplin. Disiplin paling besar kemungkinannya dibutuhkan untuk kegiatan sehari-hari yang rutin, misalnya makan, tidur atau membuat pekerjaan rumah dan paling sedikit diperlukan bila anak bebas bermain sekehendak hatinya. Sebagai contoh, bila anak menolak tidur atau makan, lebih diperlukan disiplin daripada waktu mereka membaca atau bermain dengan mainan.
4.       Kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan hari dalam seminggu. Hari senin dan akhir minggu merupakan saat disiplin paling dibutuhkan.
5.       Disiplin lebih sering dibutuhkan dalam keluarga besar daripada keluarga kecil. Semakin banyak anak dalam suatu keluarga, semakin kurang perhatian dan pengawasan yang didapat dari orang tua, dan semakin besar kemungkinan ada kecemburuan antarsaudara dan rasa permusuhan, diikuti pertengkaran dan bentuk perilaku yang mengganggu lain.
6.       Kebutuhan akan disiplin bervariasi dengan usai. Anak yang lebih besar kurang membutuhkan disiplin dibandingkan anak kecil. Dengan bertambahnya umur, mereka dapat berkomunikasi lebih baik dan dengan demikian mengerti apa yang diharapkan dari mereka.
Anak yang lebih besar juga membutuhkan disiplin yang berbeda jenisnya dari anak yang lebih kecil. Anak yang lebih besar perlu diberi penjelasan mengapa bentuk perilaku tertentu dapat diterima dan yang lain tidak. Memberi larangan saja, tidak cukup. Penjelasan membantu memperluas konsep moral mereka dan memberi motivasi untuk melakukan apa yang diharapkan.

Apa saja unsur-unsur DISIPLIN?
Unsur-Unsur Disiplin
Bila disiplin dianggap perlu untuk mendidik anak berperilaku social yang dapat diterima dengan standar yang ditetapkan kelompok social mereka, ia harus mempunyai empat unsure pokok. Ada empat cara mendisiplin yang digunakan, yaitu:
1.       Peraturan sebagai pedoman perilaku
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut mungkin ditetapkan oran guta, guru atau teman bermain. Tujuannya adalah membekali anak dengan pedoman perilaku yang disetujui dalam situasi tertentu.
Dalam hal peraturan sekolah misalnya, peraturan ini mengatakan pada anak apa yang yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukan sewaktu berada di dalam kelas, sekolah, kantin dan yang lainnya. Sebaliknya mereka tidak mengatakan apa yang tidak boleh dilakukan di rumah, lingkungan sekitar rumah atau kelompok bermain yang tidak diawasi guru.
Demikian juga, peraturan di rumah mengajarkan anak apa yang harus dan apa yang boleh dilakukan di rumah atau dalam hubungan dengan anggota keluarga – seperti misalnya mengambil milik saudara, tidak boleh membantah orang tua, dan yang lainnya.
Fungsi peraturan.
Peraturan mempunya dua fungsi. Pertama, peraturan mempunyai nilai pendidikan, sebab peraturan memperkenalkan pada anak perilaku yang disetujui anggota kelompok tersebut. Kedua, peraturan membantu mengekang perilaku yang tidak diinginkan. Bila peraturan keluarga mengatakan bahwa tidak seorang anak pun boleh mengambil mainan atau milik saudaranya tanpa pengetahuan dan izin si pemilik, anak segera belajar bahwa hal ini dianggap perilaku yang tidak diterima karena mereka dimarahi atau dihukum bila melakukan tindakan terlarang ini.
Agar peraturan dapat memenuhi kedua fungsi penting di atas, peraturan itu harus  dimengerti, diingat dan diterima oleh si anak. Bila peraturan diberikan dalam kata-kata yang tidak dimengerti atau hanya sebagian dimengerti, peraturan itu tidak berharga sebagai pedoman perilaku dan gagal mengekang perilaku yang tidak diinginkan.
Umumnya lebih anyak peraturan diperlakukan bagi anak kecil daripada bagi anak yang lebih besar. Menjelang masa remaja, anak dianggap telah belajar apa yang diharapkan kelompok social dari mereka, oleh sebab itu peraturan sebagai pedoman perilaku tidak lagi diperlukan. Akan tetapi, karena banyak anak, seperti juga anak remaja dan orang dewasa, kemungkinan lekas terglincir ke dalam perilaku yang tidak diinginkan jika tidak ada peraturan, peraturan tetap berfungsi sebagai alat pengekang perilaku yang tidak diinginkan, yaitu fungsi pokok kedua dari peraturan.
2.       Konsistensi dalam peraturan tersebut dan cara yang digunakan untuk mengajarkan dan memaksakannya
3.       Hukuman untuk pelanggaran peraturan
Fungsi hukuman.
Hukuman mempunyai tiga peran penting dalam perkembangan moral anak. Fungsi pertama adalah menghalangi. Hukuman menghalangi pengulangan tindakan yang tidak diinginkan oleh masyarakat. Bila anak menyadari bahwa tindakan tertentu akan dihukum, mereka biasanya urung melakukan tindakan tersebut karena teringat akan hukuman yang dirasakannya di waktu lampau akibat tindakan tersebut.
Fungsi kedua adalah mendidik. Sebelum anak mengerti peraturan, mereka dapat belajar bahwa tindakan tertentu benar dan salah dengan mendapat hukuman karena melakukan tindakan yang salah dan tidak menerima hukuman bila mereka melakukan tindakan yang diperbolehkan. Dengan meningkatnya usia, mereka belajar peraturan terutama lewat pengajaran verbal. Tetapi mereka juga belajar dari pengalaman bahwa jika mereka gagal mematuhi peraturan sudah barang tentu mereka akan dihukum. Ini memperkuat pengajaran verbal.
Fungsi ketiga adalah memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.  Pengetahuan tentang akibat-akibat tindakan yang salah perlu sebagai motivasi untuk menghindari kesalahan tersebut.
Evaluasi hukuman.
Ada dua criteria apabila mengevaluasi berbegai bentuk hukuman, yaitu:
a.       Apakah hukuman tersebut sesuai ditinjau dari sudut perkembangan? Apakah anak mengerti mengapa hukuman itu diberikan?
b.      Apakah hukuman tersebut memenuhi ketiga tujuan disiplin (mendidik, menghalangi, dan memberi motivasi)?
Jika hukuman yang digunakan membuat anak suka melawan dan bersikap bermusuhan, motivasi untuk mencoba bersikap lebih baik secara social akan hilang. Sebaliknya, mereka kan berusaha membalas, walaupun meungkin dengan cara memproyeksi rasa amarah dan sikap permusuhan pada korban yang tidak bersalah alih-alih pada orang yang menghukumnya.
Untuk hukuman badan, ada tiga situasi dimana hukuman badan berguna, yakni:
a.       Bila tidak ada cara lain untuk mengkomunikasikan larangan mengenai sesuatu yang mungkin berbahaya bagi diri anak atau orang lain.
b.      Bila hukuman dapat diberikan pada saat tindakan terlarang sedang berlangsung sehingga anak akan menghubungkan keduanya dan mengerti mengapa tindakan itu dilarang.
c.       Bila berat hukuman badan disesuaikan dengan berat kesalahan, anak akan mempunyai nilai edukatif.
4.       Penghargaan untuk perilaku yang baik yang sejalan dengan peraturan yang berlaku.
Hilangnya salah satu hal pokok ini akan menyebabkan sikap yang tidak menguntungkan pada anak dan perilaku yang tidak akan sesuai dengan standard an harapan social. Contohnya, bila anak anak merasa bahwa mereka dihukum secara tidak adil atau bila usaha mereka untuk menyesuaikan diri dengan harapan social tidak dihargai oleh pihak yang berkuasa, hal itu akan melemahkan motivasi mereka untuk berusaha memenuhi harapan social.
Karena empat hal pokok ini sangat berperan dalam perkembangan selama masa kanak-kanak.

Hmmm,... Bagaimana ya cara menanamkan DISIPLIN pada anak?
aha! ini dia,..! ^^
Cara-Cara Menanamkan Disiplin
Ada tiga cara dalam menanamkan disiplin, yaitu:
1.       Cara mendisiplin otoriter
Cara mendisilin yang otoriter ditandai dengan adanya peraturan dan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan. Tekniknya memberi hukuman yang berat bila terjadi kegagalan atau kesalahan sedikit. Artinya, hukuman yang diberikan tidak seimbang dengan kesalahan yang dilakukan. Atau sama sekali tidak ada persetujuan, artinya dalam pembuatan peraturan tersebut tidak melibatkan anak di dalamnya. Atau tidak adaya pujian atau penghargaan lainnya bila anak memenuhi standar yang diharapkan.
Disiplin otoriter selalu berarti mengendalikan melalui kekuatan eksternal dalam bentuk hukuman, terutama hukuman badan. Bahkan setelah anak bertambah besar, orang tua yang menggunakan pengendalian otoriter yang kaku jarang mengendurkan pengendalian mereka atau menghilangkan hukuman badan.
Tambahan pula, mereka tidak mendorong anak untuk dengan mandiri mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan tindakan mereka. Sebaliknya, mereka hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, dan tidak menjelaskan mengapa hal itu harus dilakukan. Jadi anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar bagaimana mengendalikanperilaku mereka sendiri.
Dalam keluarga dengan cara mendisiplin otoriter yang lebih wajar, anak tetap dibatasi dalam tindakan mereka, dan keputusan-keputusa diambil oleh orang uta. Namun keinginan mereka tidak selurhnya diabaikan, dan pembatasan yang kurang beralasan, misalnya larangan melakukan apa yang dilakukan teman sebaya, berkurang.
2.       Cara mendisiplin permisif
Disiplin permisif sebetulnya berarti sedikit diseiplin atau tidak berdisiplin. Biasanya disiplin permisif tidak membimbing anak ke pola perilaku yang disetujui secara social dan tidak menggunakan hukuman.
Bagi banyak orang tua, disiplin permisif merupakan protes terhadap disiplin yang kaku dank eras masa kanak-kanak mereka sendiri. Dalam hal seperti itu, anak sering tidak diberi batas-batas atau kendala yan gmengatur apa saja yang bolah dilakukan; mereka diijinkan untuk mengambil keputusan sendiri dan berbuat sekehendak mereka sendiri.
3.       Cara mendisiplin demokratis
Cara mendisiplin demokratis menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini lebih menekankan  aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukumannya.
Bila anak masih kecil, mereka diberi penjelasan mengenai peraturan yang harus dipatuhi dalam kata-kata yang dapat dimengerti. Misalnya, bila ada peraturan bahwa mereka tidak boleh menyentuh kompor di dapur, mereka diberitahu bahwa perbuatan  itu akan menyakiti mereka, atau diperlihatkan, dengan mendekati tangan mereka pada kompor, arti kata “sakit” dan mengapa mereka tidak boleh menyentuh kompor.
Dengan bertambahnya usia, mereka tidak saja diberi penjelasan tentang peraturan, melainkan juga diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mereka tentan gperaturan. Contohnya, bila peraturan itu berbeda dari peraturan teman mereka, orang tua memberi mereka kesempatan untuk mengemukakan mengapa mereka merasa mereka tidak perlu mematuhi peraturan yang tidak berlakku bagi teman mereka. Bila alasan mereka masuk akal, oran guta yan gmenggunakan disiplin demokratis biasanya mau mengubah peraturan mereka.
Disiplin demokratis menggunakan hukuman dan penghargaan, dengan penekaan yang lebih besar pada penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan biasanya tidak berbentuk hukuman badan. Hukuma hanya digunakan bila terdapat bukkti bahwa anak secara sadar menolak melakukan apa yang diharapkan dari mereka. Bila perilaku anak memenuhi standar yang diharapkan, oran guta yang demokratis akan menghargainya dengan pujian atau pernyataan persetujuan yang lain.
Falsafah yang mendasari disiplin demokratis ini adalah falsafah bahwa disiplin bertujuan mengajar anak mengembangkan kendali atas perilaku mereka sendiri sehingga mereka akan melakukan apa yang benar, meskipun tidak ada penjaga yang mengancam mereka dengan hukuman bila mereka melakukan sesuatu yang tidak dibenarkan. Pengendalian internal atas perilaku ini adalah hasil usaha mendidik anak untuk berperilaku menurut cara yang benar dengan memberi mereka penghargaan.

End then,... apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi cara menDISIPLIN?? o_0
Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Cara Mendisiplin
1.       Kesamaan dengan disiplin yang digunakan orang tua
Bila orang tua dan guru merasa bahwa oran gtua mereka berhasil mendidik mereka dengan baik, mereka menggunakan teknik yang serupa dalam mendidik anak asuhan mereka; bila mereka merasa teknik yang digunakan oran gtua mereka salah, biasanya mereka beralih ke tekni yang berlawanan.
2.       Penyesuaian dengan cara yang disetujui kelompok
Semua orang tua dan guru, tetapi terutama merek ayang muda dan tidak berpengalaman, lebih dipengaruhi oleh apa yang oleh anggota kelompok mereka dianggap sebagai cara “terbaik” daripada oleh pendirian mereka sendiri mengenai apa yang terbaik.
3.       Usia orang tua atau guru
Oran gtua dan guru yang muda cenderung lebih demokratis dan permisif dibandingkan dengan mereka yang lebih tua. mereka cenderung mengurangi kendali tatkala anak menjelang masa remaja.
4.       Pendidikan untuk menjadi orang tua atau guru
Orang tua yang telah mendapat kursus dalam mengasuh anak dan lebih mengerti anak dan kebutuhannya lebih menggunakan teknik demokratis dibandingkan oran tua yang tidak mendapat pelatihan demikian.
5.       Jenis kelamin
Wanita pada umumnya lebih mengerti anak dan kebutuhannya dibandingkan pria, dan mereka cenderung kurang otoriter. Hal ini berlaku untuk orang tua dan guru meupun untuk para pengasuh lainnya.
6.       Status sosio-ekonomi
Orang tua dan guru kelas menengah dan rendah cenderung lebih keras, memaksa, dan kurang toleran dibandingkan mereka yang dari kelas atas, tetapi mereka lbiah konsisten. Semakin berpendidikan, semakin mereka menyukai disiplin demokratis.
7.       Konsep mengenai peran orang dewasa
Orang tua yang mempertaahankan konsep tradisional mengenai peran orang tua, cenderung lebih otoriter dibandingkan orang tua yang telah menganut konsep yang lebih modern. Guru yang yakin bahwa harus ada tata-cara yang kaku dalamkelas lebih banyak menggunakan disiplin otoriter dibandingkan guru yang mempunyai konsep mengajar yang demokratis.
8.       Jenis kelamin anak
Orang tua pada umumnya lebih keras terhadap anak perempuan daripada terhadap anak laki-lakinya. Begitu pula para guru cenderung lebih keras terhadap anak perempuan.
9.       Usia anak
Disiplin otoriter jauh lebih umum digunakan untuk anak kecil daripada untuk mereka yang lebih besar. Apapun teknik yang disukai, kebanyakan orang tua dan guru merasa bahwa anak kecil tidak dapat mengerti penjelasan, sehingga mereka memusatkan perhatian mereka pada pengendalian otoriter.
10.   Situasi
Ketakutan dan kecemasan biasanya tidak diganjar hukuman, sedangkan sikap menantang, negativism, dan agres kemungkinan lebih mendorong pengendalian otoriter.

Nah, jika harus memberi hukuman pada anak, bagaimana agar hukuman yang diberikan itu memiliki nilai positif? Ini dia jawabannya,... :)

Pokok-pokok hukuman yang baik
1.       Hukuman harus disesuaikan dengan pelanggaran dahrus mengikuti pelanggaran sedini mungkin sehingga anak akan mengasosiasikan keduanya. Bila seorang anak memuang makanna ke lantai karena sedang marah-marah, anak itu harus langsung membersihkannya.
2.       Hukuman yang diebrikan harus konsisten sehingga anak itu mengetahui bahwa kapan saja suatu peraturan dilanggar, hukuman itu tidak dapat dihindarkan.
3.       Apa pun bentuk hukuman yang diberikan, sifatnya harus impersonal sehingga anak itu tidak akan menginterpretasikannya sebagai “kejahatan” si pemberi hukuman.
4.       Hukuman harus konstruktif sehingga memberi motivasi untuk yang disetujui secara social di masa mendatang.
5.       Suatu penjelasan mengenai alasan mengapa hukuman diberika harus menyertai hukuman agar anak itu akan melihatnya sebagai andil dan benar.
6.       Hukuman harus mengarah ke pembentukan hati nurani untuk menjamin pengendalian perilaku dari dalam di masa mendatang.
7.       Hukuman tidak boleh membuat anak merasa terhina atau menimbulkan rasa permusuhan.


Pssstt,... ternyata ada sisi positif dan negatifnya loh dibalik DISIPLIN itu,.. mau tau?? ini dia,.. :)

Fungsi disiplin yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat
1.       Fungsi yang bermanfaat
a.       Untuk mengajar anak bahwa perilaku tertentu selalu akan diikuti hukuman, namun yang lain akan diikuti pujian.
b.      Untuk mengajar anak suatu tingkatan penyesuaian yang wajar, tanpa menuntut konformitas yang berlebihan.
c.       Untuk membantu anak mengembangkan pengendalian diri dan pengarahan diri sehingga mereka dapat mengembangkan hati nurani untuk membimbing tindakan mereka.
2.       Fungsi yang tidak bermanfaat
a.       Untuk menakut-nakuti anak
b.      Sebagai pelampiasan agresi orang yang mendisiplin.

Okkeee,. finish juga akhirnya,.
[sebenernya ini tugas makalah ku nanti yang mau dipresentasikan setelah UTS, but, gak apa2 deng kalo mungkin aja ada temen kelas ku yang mau tau materinya terlebih dahulu, hehee,... #ngikik,..]
wokke,. tanpa berpanjang kali lebar lagi, selamat membaca,... semoga tulisan yang sedikit ini bisa bermanfaat,... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar