Selasa, 06 Maret 2012

Review Buku_Tugas Manajemen Konseling

Tugas ini disusun sebagai syarat mata kuliah manajemen konseling
Dosen pengampu: fifi nofiaturrahmah, M.Pd.I
Tugas: Me-review buku

IDENTITAS BUKU
Judul: Kiat mengatasi gangguan belajar
Penulis: Derek wood, dkk
Tahun terbit: 2011
Penerbit: KATAHATI
Jumlah halaman: 215 hal

PENDAHULUAN
Sebagai calon guru sekaligus calon konselor bagi anak didiknya, sudah seharusnya mengenal dan memahami dunia anak dengan segala pernak-pernik di dalamnya. Baik itu kesenangan maupun permasalah yang mereka hadapi dalam proses belajar-mengajar. Seorang guru harus dapat mengetahui kondisi psikologis setiap anak didiknya. Hal ini sangat membantu dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi anak. Inilah pentingnya bagi kita mengetahui apa masalah yang banyak dihadapi para siswa.
Kegiatan belajar tentu akan efektif jika kondisi lingkungan juga mendukung. Baik dari guru, siswa, sekolah, maupun orang tua. Namun sering juga permasalahan muncul dari dalam diri siswa. Yakni salah satunya adalah kesulitan dalam belajar.
Buku ini sangat cocok bagi kita para calon guru untuk mengetahui salah satu masalah psikologis yang banyak mendera peserta didik. Masalah yang dibahas dalam buku ini adalah mengenai gangguan dalam proses belajar dan gangguan dalam hal memusatkan perhatian.
ISI
Buku ini dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yaitu gangguan dalam proses belajar, dan bagian kedua yaitu gangguan dalam hal memusatkan perhatian.
Pada bagian pertama ini dibahas mengenai gangguan dalam prose belajar, jenis-jenis kesulitan belajar, factor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar, bantuan apa saja yang dapat diberikan, serta pandangan umum mengenai kesulitan belajar.
Sedangkan pada bagian kedua dibahas mengenai gangguan konsentrasi dengan sikap hiperaktif (ADHD), pentingnya psikoterapi dalam menangani ADHD, gangguan konsentrasi pada orang dewasa, ADHD yang terjadi seumur hidup, concerta, manajemen ingatan emosional, serta pemahaman mengenai autism.

BAGIAN PERTAMA
Gangguan dalam proses belajar
Gangguan dalam proses belajar dapat bermacam-macam. Mulai dari kesulitan mengemukakan gagasan, tidak mampu memusatkan perhatian, mengalami kesulitan dalam membaca (dyslexia) atau beragam jenis kesulitan belajar yang lain. Orang yang mengalami kesulitan dalam belajar kemungkinan akan mengalmi kegagalan yang berturut-turut dalam proses akademiknya dan memiliki rasa percaya diri yang rendah.  Akan tetapi gangguan dalam proses belajar ini masih dapat ditolong. Fakta membuktikan bahwa kesulitan dalam belajar ini kebanyakan hanya memengaruhi sebagian saja dalam tahapan perkembangan seorang anak.
Apa yang dimaksud dengan gangguan belajar? Gangguan belajar atau Learning Disorder adalah ketidakmampuan dalam mengubungkan berbagai informasi serta kesulitan dalam kemampuan seseorang untuk menafsirkan apa yang mereka lihat dan dengar. Kelemahan ini akan tampak dalam beberapa hal, seperti kesulitan dalam berbicara dan menuliskan sesuatu, koordinasi, pengendalian diri atau perhatian. Kesulitan-kesulitan ini tampak ketika melakukan kegiatan belajar. Kesulitan belajar dapat berlangsung dalam waktu yang lama.
Apakah kesulitan belajar itu?
Kesulitan belajar dapat dibagi menjadi tiga kategori besar, yakni: kesulitan dalam berbicara dan berbahasa, permasalahan dalam hal kemampuan akademik, dan kesulitan dalam mengoordinasi gerakan anggota tubuh.
Kesulitan dalam berbicara dan berbahasa. Kesulitan belajar ini memiliki cirri-ciri spesifik, diantaranya: keterlambatn dalam hal pengucapan bunyi bahasa, keterlambatan dalam hal mengekspresikan pikiran atau gagasannya melalui bahasa yang baik dan benar, dan keterlambatan dalam hal pemahaman bahasa.
Gangguan kemampuan akademik. Cirri-cirinya adalah mengalami keterlambatan dalam hal membaca atau disleksia, menulis, mendengarkan, dan berbicara.
Kesulitan dalam memusatkan perhatian. Dari hasil penelitian, hampir 4 juta anak sekolah, 20% dari mereka mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Hal ini seringkali nampak dengan gemarnya melamun pada saat pelajaran.
Factor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar. Para ahli kesehatan jiwa menyatakan bahwa hingga saat ini masih belum bisa memastikan secara pasti penyebab kesulitan belajar karena begitu kompleksnya penyebab kusulitan belajar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penyebab kesulitan belajar tidak hanya berkaitan dengan bagian otak tertentu saja, tapi juga karena kesulitan dalam menyalurkan berbagai informasi yang dating dari berbagai bagian otak secara bersama-sama.
Adapun factor penyebab lainnya antara lain: masalah selama kehamilan dankelahiran, tembakau, alcohol, obat-obatan terlarang, dan racun di lingkungan sekitar anak-anak.
Bantuan apa yang bisa diberikan?
Orang tua harus menyadari keterlambatan perkembangan yang dialami anaknya semasa awal masa pertumbuhan. Seorang guru juga harus menyadarinya ketika anak didiknya mengalami kesulitan dalam belajarnya. Kesulitan belajar yang dialami anak-anak yang sopan dan pendiam di kelas kemungkinan besar sulit dideteksi. Berbeda dengan anak-anak yang menunjukkannya dengan hiperaktif. Jika ditemukan anak seperti itu secepatnya pendidik, orang tua memberikan pertolongan dengan memberikan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan sang anak.
Jenis obat-obatan apa yang tersedia? Tiga macam obat-obatan yang sering digunakan adalah Ritalin (methylphenidate), Dexedrine (dextroamphetamine), dan Cylert (pemoline). Obat ini dapat membuat anak dapat memusatkan perhatiannya dalam jangka waktu tertentu dan membantu anak mengendalikan dorongan hati mereka yang meledak-ledak serta perilaku hiperaktif mereka. Obat-obatan efektif bekerja selama 3 hingga 4 jam serta berada dalam tubuh selama 12 jam.
Bagaimana upaya kelurga untukmengatasinya? Kelurga yang memiliki anak yang mengalami kesulitan belajar akan mengalami beban emosional. Orang tua seringkali mengalami beban emosional, penolakan, sikap menyelahkan diri sendiri, frustasi, marah dan putus asa. Bimbingna konseling dapat sangat membantu orang yang mengalami keterlambatan belajar beserta keluarganya. Konseling dapat membantu mempengaruhi anak-anak, remaja, serta orang dewasa untuk mengembangkan rasa pengendalian diri yang lebih besar serta sikap positif terhadap kemampuan mereka sendiri. Juga terhadap keluarga dapat meringankan beban penderitaan serta memperoleh dukungan dan rasa aman ketika berbincang dengan konselor atau ahli psikologi.
Dapatkah kesulitan belajar disembuhkan? Tidak. Mestki keterlambatan belajar tidak dapat disembuhkan, namun masih ada harapan. Bagi orang yang menderita disleksia, program pembacaan pengobatan yang layak dapat membantu orang tersebut mencapai kemajuan yang pesat.
Kepedulian pemerintah terhadap penderita keterlambatan belajar. Undang-undang Pendidikan bagi Individu Penderita Cacat (The Individuals with Disabilities Education Act) tahun 1990 menjamin adanya institusi pendidikan umum bagi anak-anak yang didiagnosis mengalami keterlambatan belajar. Institusi pendidkan dan perguruan tinggi yang didanai oleh public harus menghapuskan batasan terhadap mahasiswa penyandang cacat. Hasilnya, kini banyak sekolah yang merekrut dan bekerja dengan mahasiswa penyandang keterlambatan belajar sehingga memungkinkan mereka untuk menghadiri perkuliahan.
Pandangan umum mengenai kesulitan belajar
Berikut adalah kelemahan-kelemahan yang dialami penderita kesulitan belajar (LD):
Membaca. Mereka mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata (misalnya huruf atau suara yang seharusnya tidak diucapkan, sisipan, penggantian atau kebalikan) atau memahaminya (misalnya, memahami fakta-fakta dasar, gagasan utama, urutan kronologis, atau topic sebuah bacaan).
Bahasa tertulis. Ini tampak dari tulisan tangan, kemampuan mengeja, susunan kata, penggunaan kosakata, kualitas tulisan yang dihasilkan, dan penyusunan karangan.
Matematika. Masalah lain timbul dalam wujud kesulitan membedakan angka, symbol-simbol, serta bangun-bangun ruang (kemampuan persepsi visual yang buruk), tidka sanggup mengingat rumus-rumus matematis (ingatan yang buruk), menulis angka yang tidak terbaca atau dalam ukuran kecil (kelemahan fungsi motorik), dan tidak memahami makna symbol-simbol matematis.
Memori. Penderita LD juga mengalami kelemahan dalam mengingat.
Metakognisi. Penderita LD juga memiliki peluang untuk menderita kelemahan dalam bidang metakognisi, yakni kesadaran tentang bagaimana seseorang berpikir serta memantau apa yang dipikirkannya. Kelemahan dalam bidang ini pada akhirnya akan memengaruhi kemampuan mereka untuk menerapkan suatu strategi dalam tempat serta waktu yang tepat.
BAGIAN KEDUA
Gangguan Konsentrasi dengan Sikap Hiperaktif (ADHD).
ADHD adalah sebuah gangguan kejiwaan yang pengaruhnya bisa mengarah pada orang-orang yang ada disekitar penderita. ADHD ini adalah satu-satunya gangguan jiwa “yang dilakukan di luar kesadaran”. ADHD terjadi karena keterbelakangan atau ketidak mampuan mental sehingga para penderitanya gagal untuk berperilaku secara pantas. (Schaughency & Rothlind, 1991).
Anak penderita ADHD mengalami banyak sekali masalah dengan lingkungan sekitarnya. Mereka tidak disenangi dan ditolak keberadaannya. Hampir 80% penderita ADHD ditangani dengan terapi obat-obatan. Empat permasalahan yang diajukan oleh pasien ADHD adalah tekanan kejiwaan dan rasa khawatir alam menghadapi tuntutan hidup, rasa penghargaan dan rasa percaya diri yang rendah, kesedihan karena gagal mencapai sesuatu, dan rasa tak berdaya. Terapi paling efektif adalah dengan metode terapi kebiasaan dan obat-obatan yang dipandu oleh psikiater.
Gangguan Berkonstrasi Pada Diri Orang Dewasa.
Penderita ADD (gangguan konsentrasi) dewasa umumnya mengalami masalah dalam menyelesaikan tugas, menjalin hubungan, dan mengendalikan perasaan. Terdapat tes gejala ADD bagi orang dewasa dimana dari pernyataan-pernyataan yang diajukan, ternyata mengalami lebih dari 10 hal tersebut maka ada kemungkinan menderita ADD.
Orang dewasa penderita ADD masih dapat memperoleh bantuan secara alami tanpa efek samping obat-obatan peringan melalui metode diet khusus, olahraga, serta perubahan pola hidup.
ADHD yang Terjadi Seumur Hidup.
Dalam bagian ini penulis menuliskan criteria diagnosis ADHD. Seperti gejala-gejala awal yang terjadi pada 6 bulan pertama, kegagalan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas.
Ada sebuah penemuan yang menyatakan bahwa anak-anak penderikta ADHD memiliki kecenderungan yang tinggi untuk mengalami gangguan kejiwaan lainnya. Terutama gangguan dalam pola kebiasaan, perasaan, rasa takut berlebihan, serta masalah pada kecerdasan kognitif. Semua jenis ADHD memiliki hubungan dengan gangguan kejiwaan yang berhubungan dengan rasa takut berlebihan, dan yang terparah adalah jenis ADHD-C. Keterlambatan atau gangguan belajar juga tampak pada penderita ADHD.
Riset studi Reid dan Maag (1994) mencatat bahwa hamper 50% penderita ADHD mengalami kesulitan membaca, 40%nya mengalami kesulitan dalam bidang matematika, dan sekitar 30% mengalami kesulitan baik dalam matematika maupun membaca. Akibatnya, penderita ADHD mestinya diberi pendidikan khusus.
Penderita ADHD juga mengalami kesulitan bersosialisasi, seperti: kebiasaan untuk menyela sesuatu, kemampuan berkomunikasi yang rendah, kemampuan bersosialisasi yang rendah, dan pengendalian emosi yang buruk.
Jaquith (1996) mencatat bahwa ada tiga aspek utama sehubungan dengan perkembangan fisik anak-anak penderita ADHD, yakni memproses cerapan yang masuk melalui kelima panca indera, pengetahuan akan ruang, dan bertumbuhnya kesadaran diri. Berkurangnya proses pendengaran dan penglihatan akan mengakibatkan masalah dengan ingatan atau memori jangkapendek. Kurangnya pengetahuan akan ruang mengakibatkan anak mudah sekali menumbuk sesuatu serta tidak dapat mengoordinasi tubuhnya dengan baik.
Pada perkembangan psikologisnya, anak-anak penderita ADHD sangat sensitive terhadap saran atau tanggapan orang lain, dengan ejekan dari teman sebaya, dan kritik dari orangtua dan guru. Inilah yang menyebabkan anak mulai menggambarkan dirinya negative, merasa rendah diri, marah, dan tertekan.
Mengenai interaksi dengan lingkungan, anak-anak penderita ADHD cenderung gelisah. Seay (1999) mencatat bahwa banyak gejala kognitif yang hadir di kalangan penderita ADHD yang memiliki andil terhadap permasalahan yang lebih luas. Masalah ini terdiri dari blingking, scanning, multitracking, flooding, radial thinking, dan hyper-focus.
Blingking berarti seseorang mudah kehilangan focus atau konsentrasi. Scanning  adalah bila pikiran tidak dapat menyaring rangsangan atau cerapan yang berasal dari luar. Multitracking adalah ketika ketidakmampuan anak mengikuti atau memusatkan perhatian pada salah satu objek. Flooding merupakan sikap menyerap segala sesuatu dilingkungannya sehingga menyebabkan mereka bereaksi berlebihan bila disbanding orang lain. Radial thinking adalah ketidakmampuan untuk berfikir sistematis dan logis. Dan Hyper-focus adalah perhatian yang berlebihan terhadap suatu objek.
Pada masa kanak-kanaknya, penderita ADHD memiliki kesullitan membina hubungan dengan teman sebayanya. Anak penderita ADHD dapat dipandang negative oleh teman-temannya. Lemahnya pengendalian diri dapat menimbulkan tindakan-tindakan seperti mendorong, memukul, mencengkeram anak lainnya, dll.
Pada orang dewasa penderita ADHD, salah satu masalah yang timbul adalah bila mereka diberi beberapa pekerjaan sekaligus, mereka mungkin hanya akan membolak-balik kertas kerja tersebut karena sulit bagi mereka untuk berkonsentrasi. Goldstein (1997) mencatat bahwa penderita ADHD lebih sering berhubungan dengan polisi dibandingkan dengan kelompok lainnya, dimana rasionya 19:3.
Bila seorang anak didiagnosis menderita ADHD, maka tidak hanya perlu memdidik sang anak saja, tapi juga keluarganya. Karena dari keluarga dapat meminimakan efek samping yang ada.
ADHD Pada Anak-Anak dan Dewasa
ADHD menhinggapi satu diantara 20 anak, dengan jumlah anak laki-laki penderita ADHD empat kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.
Apa yang menyebabkan ADHD? Belum ada satupun penyebab pastinya. Berbagai virus, zat-zat kimia berbahanya yang ada di lingkungan sekitar, factor genentika, masalah selama kehamilan atau kelahiran, atau apa saja yang dapat menimbulkan kerusakan perkembangan otak, berperan penting sebagai factor penyebab ADHD.
Apa bantuan yang dapat diberikan? Dapat dengan memberikan obat-obatan (jenis stimulan) dan terapi perilaku. Dapatkah dicegah? Dikarenakan banyaknya factor yang dapat menyebabkan ADHD, maka pencegahannya pun akan sulit dilakukan. Bagi ibu hamil menjaga kesehatannya dari alcohol, obat-obatan terlarang, tembakau, dan zat-zat kimia berbahaya lainnya selama proses kehamilan.
Concerta
Concerta adalah jenis obat baru untuk mengobati penderita ADHD. Meski concerta menawarkan lebih banyak kelebihan dibandingkan obat ADHD lainnya, namun penggunaan concerta juga menimbulkan berbagai efek samping.
Efek samping concerta meliputi: sakit perut, merasa jengkel. Gelisah, permusuhan, dan kesedihan, ketergantungna obat, pening, sakit kepala, ketegangna urat saraf, tidak dapat tidur atau tidur terlalu lama, menimbulkan demam, sinusitis, infeksi pernapasan bagian atas, mual dan muntah, alergi, meningkatnya tekanan darah, dan gangguan kejiwaan seperti pemikiran yang tidak normal atau halusinasi.

Yogyakarta, 2 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar